Pucung Maju

Pucung Maju adalah nama sebuah koperasi dan sekaligus kelompok wanita tani di Desa Pucung Kec.Bancak Kab.Semarang Jateng. Letaknya lebih dekat dengan kota Salatiga, sekitar 15 km ke arah timur laut.

KONTAK PERSON:

Darojah-081318490336

Tuesday, August 24, 2010

Nota Protes Untuk Bupati Terpilih dan Dinas Terkait Kabupaten Semarang

Desa Pucung Kecamatan Bancak menjelang pilakada 2010 kemarin, dibangun jalannya yang sudah hampir 10 tahun rusak parah. Tentu saja hal ini menggembirakan bagi warga kami yang sudah lama mengimpikan pelayanan jalan yang baik. Karena sudah lama aspalnya habis, tinggal batu-batu saja. Akses jalan yang buruk ini menyebabkan warga sangat kesulitan dan harus menanggung biaya transportasi tinggi dalam berbagai aktivitasnya (dari perdagangan, pendidikan anak hingga sosial budaya). Namun, setelah dibangun oleh kontraktor "XXX" (saya tidak tahu siapa), hasilnya sangat mengecewakan. Belum sempat diresmikan saja, sudah terjadi perbaikan 4 kali dengan ditembel ulang aspalnya. Hal ini dilakukan karena kualitas aspal yang jelek dan tipis sehingga mudah terkelupas lapisannya.
Sehingga dapat dipastikan, tidak lebih dari setahun jalan sepanjang 4 km itu justru akan menjadi bencana bagi warga desa. Karena batu-batu yang lepas, justru membahayakan pengendara sepeda motor (trasportasi yang paling digemari warga, karena tidak ada javascript:void(0)transportasi umum yang murah).
Melalui surat ini: kami PROTES KERAS atas pembangunan yang kamuflase ini. Mohon diselidiki kontraktor yang menggarap, apakah sesuai atau tidak. Surat ini sekaligus nota protes dan disebarkan ke surat pembaca di berbagai media. Demikian dan terima kasih.

Edy Musyadad
Desa Pucung Kecamatan Bancak Kabupaten Semarang
Warga Epistoholik Indonesia

Wednesday, April 14, 2010

SARJANA MEMBANGUN DESA 2010

BERITA INI UNTUK MEMPERLUAS SAJA. BAGI SARJANA PETERNAKAN SEMOGA ADA YANG MEMBUTUHKAN DAN MEMANFAATKAN. KELOMPOK WANITA TANI PUCUNG MAJU SIAP MENJADI KELOMPOK SASARANNYA. Ayo siapa yang mau menjadi sarjana membangun desa?

Departemen Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan melakukan kegiatan Sarjana Membangun Desa (SMD), dalam mendukung Program Swasembada Daging Sapi (PSDS) 2014. Adapun persiapan kegiatan tersebut di tahun 2010 direncanakan memerlukan sekitar 700 Sarjana Membangun Desa di seluruh Provinsi di Indonesia.

Thursday, April 8, 2010

Hanya 5 Persen Koperasi Simpan Pinjam Sehat di Jateng

Dari sekitar 290 koperasi atau unit simpan pinjam yang berada di bawah pengawasan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah Jawa Tengah, tercatat hanya kurang dari 5 persen yang tergolong sehat. Padahal, mereka merupakan sumber pendanaan penting bagi usaha kecil dan menengah yang prospektif, tetapi kerap dianggap tidak menarik bagi perbankan.
 
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah Provinsi Jawa Tengah Abdul Sulhadi mengutarakan hal itu di sela-sela Rapat Koordinasi Penanganan KSP atau USP se-Jawa Tengah di Kota Salatiga, Senin (8/6). Menurut dia, data itu belum termasuk koperasi maupun unit simpan pinjam di bawah pengawasan kabupaten dan kota yang jumlahnya mencapai 7.400 unit.
 
Provinsi mengawasi KSP dan USP yang lintas kabupaten atau kota. Sekitar 50 persen berada dalam kategori cukup sehat. Sebagian besar masih perlu ditingkatkan kualitas sumber daya manusia dan manajemennya. Sebagai contoh, dari seluruh KSP dan USP di Jateng, yang manajernya lolos sertifikasi baru 200 orang, ujarnya.
 
CATATAN: KOPERASI KAMI YANG TIDAK BERBADAN HUKUM DAN JAUH DARI JAMINAN PENGEMBANGAN DARI PEMERINTAH JUSTRU SAAT INI SEMAKIN BESAR. BIASANYA YANG HANCUR ADALAH KOPERASI SIMPAN PINJAM YANG HANYA MENCARI DUIT DARI PEMERINTAH, SETELAH ITU MATI TERKAPAR.

Saturday, September 5, 2009

Setelah Tiga Tahun, Koperasi Perempuan Mulai Memetik Hasilnya

Tidak terasa, koperasi sudah berjalan 3 tahun. Seperti bisanya, menjelang hari raya lebaran, proses rapat anggota akan dilakukan. Dan yang ditunggu-tunggu anggota adalah pembagian SHU, sisa keuntungan koperasi. Dalam pertemuan malam itu, pengurus mencoba membuat mekanisme baru tentang pembagian SHU, dimana dari total bersih pendapatan dialokasikan ke dana cadangan sebesar 30% yang akan digunakan untuk mengembangkan koperasi kedepan. Selain itu juga dialokasikan untuk pengurus yang setiap malam selasa melayani transaksi anggota sebesar 20 %. Sisanya, ini yang dibagikan kepada anggota semua, yakni 50 %nya.

Dalam pertemuan itu, setelah dihitung akhirnya ketemu SHU yang cukup menggembirakan, yakni sebesar 3,5 juta. Menariknya lagi, selama ini warga desa tidak pernah menabung, setelah ada koperasi banyak yang menabung hingga terkumpul 5 juta dalam buku salah satu anggota. Tentu saja hal ini menggembirakan karena, mereka warga desa yang tidak bisa mengakses bank di kota, akhirnya punya media menabung. Selain itu menabung di koperasinya, ada manfaat sosial dimana uang itu bisa diputar dalam pelayanan pinjaman kepada anggota yang membutuhkan.

Keberhasilan koperasi pucung maju dalam mengelola uang memang tidak mulus dan lurus. Banyak halangan dan rintangan karena mereka hidup face to face antar warga. Pernah terjadi misalnya, anggapan kalau koperasi itu sama dengan rentenir yang dalam agama itu haram. Dan yang mengatakan itu adalah tokoh di desa tersebut. Namun, setelah ditelusuri dan kemudian didiskusikan, ada pemahaman baru bahwa koperasi tidak merugikan siapa-siapa justru memberi nilai manfaat bagi anggota. Sehingga, wajib hukumnya jalan terus. Dan mereka juga berpatokan bawa di pesantren juga ada koperasi yang namanya kopontren. Kalau koperasi itu haram, maka kopontren semestinya tidak ada.

Organisasi Rakyat Perempuan Versus Organisasi Laki-Laki Bentukan Negara (PNPM)

Pernah dengar PNPM ya. Tentu saja karena PNPM merupakan program nasional. Dan kebetulan Desa Pucung juga salah satu sasaran program PNPM ini. Nah, menariknya program di desa ini terasa seperti angin lesus saja. Rame dibicarakan, setelah itu meninggalkan kerusakan bencana. Dan saya kira juga terjadi di desa PNPM.

Kasus di Desa Pucung, yang terjadi adalah program dialokasikan untuk membuat jalan antar desa. Rata-rata pelakunya adalah bapak-bapak. Mereka merancang jalan ke dusun Karang Jati adalah yang paling penting, sehingga harus dibuat. Itu kesepakatan para laki-laki desa waktu itu. Akhinya jalan dibuat, dan jadilah. Tetapi, belum genap 1 bulan, jalan sudah mlorot alias rusak. Mereka kemudian merancang lagi perbaikannya. Jembatan pun jadi. Lagi-lagi jembatan hancur diterjang banjir sebelum bisa dipakai penghubung warga desa. Hingga sekarang, masalah ini masih membekas bahwa organisasi yang dibentuk negara sangat-sangat rapuh dan masih dimiliki oleh laki-laki. Keputusan-keputusan penting di desa masih didominiasi oleh laki-laki. Semestinya, organisasi rakyat yang dibentuk oleh rakyat tanpa intervensi negara seperti kelompok perempuan pucung maju dilibatkan. Dan kejadikan ini adalah potret umum masalah pembangunan di desa-desa seantero nusantara.

Desa Pucung, Lagi Siap-Siap Jadi Desa Organik

Memang, tidak terasa kita hidup di desa dengan berbagai kekurangan jika dibanding dengan kota yang aksesnya cepat, dan luas. Namun, ternyata dibalik sisi lemah itu ada potensi besar yang bisa digerakkan, yakni sawah. Kalau diperkotaan sawah tidak ada dan mulai hilang, di desa sawah masih luas. Inilah yang kemudian menjadi kekuatan.

Berangkat dari kelompok wanita tani Pucung Maju, mereka mengusulkan adanya sekolah pertanian kepada pemerintah untuk mengembalikan pengetahuan nenek moyang dan leluhur yang sudah hilang, yakni pertanian organik. Akhirnya, di bulan ini disetujui dengan dikirimnya hampir satu ton pupuk organik dari kompos granul, NPK granul dan pupuk cairnya. Pupuk ini sementara diletakan di rumah ibu ketua Darojah, karena juga rumahnya yang cukup besar bisa menampung pupuk.

Rencananya, pupuk ini akan digunakan untuk melakukan sekolah pertanian organik di lahan yang akan disiapkan oleh anggota dengan luas 1 ha. Setelah lebaran nanti, sekolah lapang ini akan dimulai. Dalam tahun pertama targetnya adalah adanya pengalaman nyata dari bermigrasi ke pola pertanian organik, sehingga di tahun kedua, jika muncul masalah tidak para petani tidak kaget. Selain itu, juga akan membuktikan secara langsung bagaimana tantangan dan masalah pertanian organik. Jika tahun pertama itu sukses, hal ini akan menjadi sejarah penting Desa Pucung menjadi desa organik. Seperti pengalaman koperasi dulu, tahun pertama menjadi masa yang sulit, tetapi tahun ketiga sudah memetik hasilnya dengan SHU yang fantastis, 3,5 juta. Semoga. Bagaimana dengan desa panjenengan? Lakukan hal yang sama ya. Biar belajar bareng.

Tuesday, September 1, 2009

Mudik Lebaran dan Sedekah Buku

Dibawah ini tulisan seorang guru dan juga teman. Sangat menarik untuk kita praktekan. Bagi orang-orang yang berhubungan dan punya sejarah dengan desa Pucung, selamat mudik lebaran. Jangan lupa bawa buku, untuk sekolah kita. Demi masa depan anak-anak dan adik-adik kita

Hari Lebaran adalah magnet yang menggerakkan jutaan manusia untuk pulang mudik, penuh warna suka dan duka. Ritus kembali ke akar itu menyehatkan nurani pelakunya yang mencoba menemukan oasis di daerah asalnya sebagai bekal mengarungi kehidupan di tahun-tahun berikutnya. Jangan lupa, mudiknya mereka juga berdampak ekonomi. Uang dari kota menjadi beredar di desa-desa.
Merujuk fenomena positif itu memantik gagasan : bagaimana kalau mudiknya jutaan kaum mboro itu dirancang mampu menggoreskan sentuhan yang berdimensi intelektual yang berguna, juga awet, bagi warga daerah asalnya ? Ringkas kata : mereka dihimbau membawa buku-buku untuk disumbangkan ke perpustakaan di daerahnya. Baik perpustakaan sekolahnya dulu, atau perpustakaan umum di kotanya.
Gerakan mudik bersedekah buku ini sebaiknya juga berusaha dikobarkan ke dada anak-anak dan cucu kaum mboro itu. Sehingga mereka diharapkan memiliki ikatan batin dengan anak-anak segenerasinya yang tinggal di desa atau kota kecil tempat ayah-ibu atau kakek-neneknya berasal, yang mungkin tidak seberuntung kehidupan yang ia jalani di kota. Sedekah unik ini tidak hanya buku, bisa saja berupa komputer atau laptop, yang terbeli secara patungan.
Untuk sesama warga Epistoholik Indonesia, di mana pun Anda berada, mohon kampanye ini digencarkan sepanjang Ramadhan ini demi makmurnya perpustakaan dan mekarnya olah intelektualitas di kota-kota Anda.

Bambang Haryanto
Pendiri Epistoholik Indonesia
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri 57612
Email : humorliner@yahoo.com
Blog EI : http://episto.blogspot.com